
UJIAN ATAS HAMBA ALLAH
OLEH: DR.KH. SOLAHUDIN, LC.MA
(PENGASUH PONDOK PESANTREN SMP IT AL HIDAYAH)
Segala puji bagi Allah, solawat dan salam semoga senantiasa terlimpah atas Rosulullah, amma badu.
- Ujian Yang Menimpa Seorang Mukmin Terjadi Untuk Hikmah Yang Besar baik Ujian Yang Terasa Manis Atau Yang Terasa Pahit..
Alloh berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
Dan Kami timpakan keburukan dan kebaikan sebagai bentuk ujian kepada kalian (al-Anbiya [21]: 35)
Untuk itu Nabi Muhammad sebagai manusaia yang paling mulia pun diberikan ujian oleh Allah, sehingga beliau semakin yakin, bersabar, rido dengan ketetapan Allah, maka Allah pun melipat gandakan pahalanya dan meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat.
- Seorang mu’min terkadang diberikan ujian dengan bermacam-macam ujian, terkadang kehilangan orang yang dicintainya, terkadang hilang harta bendanya yang berharga, terkadang dia tidak dapat menggapai cita-cita dunianya, terkadang diuji dengan banyaknya keturunan kemudian dia tertimpa kecemasan dan kelelahan karena mengurus keluarganya, terkadang tidak diberikan keturunan sehingga dia hidup dalam kesepian dan kesendirian, terkadang diuji dengan ketiadaan rumah hingga ia harus hidup di rumah orang lain, atau terkadang ia diuji dengan hutang yang menumpuk hingga sulit untuk melunasinya dan masih banyak lagi ujian yang menimpa kaum mu’minin.
Tidak sedikit yang bertanya, apa hikmah di balik ujian untuk orang-orang yang beriman ini. Jika kita memperhatikan ayat-ayat Alquran dan sunnah-sunnah Rasulullah, maka kita akan mendapatkan bahwa orang beriman ketika diberi ujian secara umum akan tergolong menjadi dua golongan besar:
- PERTAMA: Ketika ujian ini menimpa orang-orang yang beriman dan dia kuat dalam keimanannya, selalu beribadah kepada Allah dan selalu meninghindari maksiat kepada-Nya sebagaimana para Nabi dan Orang-orang Siddiq, maka turun ujian kepada mereka DIMAKSUDKAN untuk meninggikan derajat dan karomah di akhirat, agar mereka semakin tinggi kedudukannya di dalam surga.
حَدَّثَنِي مُصْعَبُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قُلْتُ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاءً؟ قَالَ: فَقَالَ: ” الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ، فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ ”
Mus’ab Ibn Sa’id, dari bapaknya, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam, wahai Rosulullah siapakan orang yang paling berat ujiannya? Beliau bersabda: Para Nabi, kemudian orang-orang yang semisal dengan mereka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Jika ia kuat dalam agama, maka akan semakin kuat ujiannya, jika dalam agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai kadarnya. Ketika seorang hamba terus diuji, maka ia akan berjalan di atas bumi dalam keadaan tidak memiliki kesalahan sedikitpun (H.R Bukhari)
Para nabi senantiasa mendapat ujian dari Allah sehingga Allah meninggikan derajat mereka, dan agar kita sebagai pengikut mereka bisa mencontoh kesabaran mereka dan agar kita meyakini bahwa mereka tidak memiliki sifat ketuhanan. Dan golongan ini adalah golongan yang sedikit di kalangan orang-orang beriman.
- KEDUA, Ketika ujian menimpa orang beriman yang banyak terjerumus dalam kemaksiatan, sering lalai dalam ketaatan, mengganggap remeh amanah yang diberikan, tidak menjaga lisan dan pandangan, lalai dari zikir kepada Allah, jarang mengingat kematian, MAKA musibah yang menimpa mereka tujuannya untuk menghilangkan dosa yang berkarat dan mencuci kotoran hati mereka.
Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ (حَزَنٍ) وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Tidak ada satu kelelahan, keletihan, kegalauan, kesedihan, rasa sakit dan gundah yang menimpa seorang mukmin, sampai duri yang menusuknya, kecuali hal itu adalah sebagai penghapus dari dosa-dosanya. (H.R Bukhari)
Ujian dan musibah yang menimpa seorang mukmin adalah musibah yang diselesaikan di dunia, dan agar menjadi peringatan agar ia segera bertaubat kepada Allah.
Kelompok manusia ini lah yang mayoritas terjadi pada diri seorang muslim.
- Terjadinya musibah atas pribadi muslim adalah sebuah nikmat dari Allah, karena Dia menyegerakan hukuman di dunia sehingga terhindar dari azab di akhirat. Rosululah bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ
Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, maka Alah akan menyegerakan kepadanya hukuman di dunia, dan jika Allah menghendaki keburukan kepada seorang hamba, maka Allah akan menahan hukuman di dunia padahal ia terus berdosa, sehingga hukuman itu akan ditimpakan pada hari kiamat (H.R Tirmizi)
Dan Agar kaum mulimin mengetahui bahwa azab akhirat lebih besar dari azab dunia. Allah berfirman:
كَذَلِكَ الْعَذَابُ وَلَعَذَابُ الْآَخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Begitulah Azab, dan azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui (Alqolam: 33)
- Jika seorang muslim sabar dalam menerima ujian, maka ia akan mendapat pahala yang besar
إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ.
Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian, dan Allah jika menginginkan kebaikan kepada sebuah kaum pasti Allah akan menguji mereka, siapa yang rido maka Allah akan meridoinya dan siapa yang benci maka Allah akan membencinya (H.R Tirmizi)
- Terkadang Allah pun menangguhkan hukuman kepada orang-orang yang zalim, hingga satu saat ketika ia dalam kelalaian, maka dengan tiba-tiba azab itu didatangkan oleh Allah. Rosulullah bersabda:
إِنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ قَالَ ثُمَّ قَرَأَ [وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ]
Sesungguhnya Allah terkadang membiarkan orang zalim dengan kezalimannya, hingga di saat Allah hendak menghukumnya, maka ia pasti binasa dan tidak bisa berlepas diri. Kemudian beliau membaca ayat “Begitulah siksaan Robbmu ketia Ia menyiksa penduduk negeri, sesungguhnya siksaannya teramat pedih dan besar. (H.R Bukhari)
Maka tidak layak bagi seorang mukmin merasa nyaman dengan kemaksiatan, bisa jadi Allah menundanya sejenak untuk kemudian Allah menimpakan azabnya,
- Adapun bencara Alam, maka biasanya itu terjadi karena kekufuran kepada Allah. Atau karena mayoritas kemaksiatan sudah menyebar di desa tersebut. Hal ini sebagaimana telah terjadi pada penduduk nabi Nuh dan Nabi-nabi selainnya.
{فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ} [العنكبوت: 40]
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. [Al Ankabut : 40]
- Akibat Yang Ditimbulkan Dari Sebuah Bencana Yang Melanda Tidaklah Terbatas Dan Terkhusus Hanya Ditujukan Bagi Para Pendosa, Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wata’ala :
{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال: 25]
Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. [Al Anfal : 25]
- Jika Mayoritas Penduduk Bumi Baik, Maka Allah Tidak Akan Mendatangkan Bencana Kepada Mereka
{وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ} [هود: 117]
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. [Hud : 117]
Oleh karena itu, mari kita senantiasa berbuat kebaikan, jauhi kesyirikan, kekafiran, maksiat dan dosa-dosa lainnya, kalaupun ada diantara kita yang menjadi korban bencana semoga Allah memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang mati syahid, Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
« الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ » (رواه مالك ، والبخارى ، ومسلم ، والترمذى عن أبى هريرة)
Orang-orang yang mati syahid itu ada lima : Meninggal karena wabah penyakit, Meninggal karena sakit perut atau muntaber, Meninggal karena tenggelam, Meninggal karena tertimpa reruntuhan, Meninggal karena terbunuh di medan perang (HR. Malik, Al Bukhori, Muslim dan At Tirmidzi Rahimahumullah dari Abu Hurairah Radhiallohu ‘anhu)

