Bagikan ini :

 

Makna “Talbis” di sini adalah menampakkan kebatilan dengan bentuk kebenaran, atau menampilkan keburukan seolah kebaikan. Adapun makna “Talbis Iblis” di sini adalah tipuan iblis kepada manusia, dengan cara menggambarkan setiap keburukan seolah baik dan kebaikan seolah buruk. Hal ini terjadi karena adanya “Syubhat” atau hal samar yang ditebar oleh Iblis kepada manusia.

Agar terhindar dari syubhat ini, maka kita harus membentengi diri dengan ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu tentang keislaman yang dibawa oleh Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam. Dengan ilmu islam, keyakinan seseorang menjadi mantap dan ia tidak mudah tersamarkan oleh tipu daya iblis.

Berikut ini adalah beberapa point penting yang harus diilmui oleh seorang muslim.

 

1. Iblis Adalah Musuh Abadi dan Senantiasa Menggoda Manusia Hingga Manusia Menjadi Penghuni Neraka

Sejak diusirnya Iblis dari penduduk langit, maka iblis menjadi musuh manusia yang abadi hingga hari kiamat. Pernyataan ini langsung dibadikan dalam Alquran:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya setan adalah musuh kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh. Karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (Fatir: 6)

Assa’di rahimahullah berkata: Setan adalah musuh hakiki kalian, maka kalian harus selalu mengingat permusuhan ini dan jangan lengah. Karena dia melihatmu sedangkan kamu tidak melihat kalian, dan setan selalu mengintai kalian setiap waktu. Adapun tujuan akhir dari godaan setan adalah ia ingin menghinakan manusia hingga termasuk penduduk neraka.

Setelah setan bersumpah kepada Allah untuk menyesatkan manusia, setan pun berkata bahwa ia akan mendatangi dan mengepung manusia dari berbagai arah. Hal sebagaimana yang Allah firmankan

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (al-Araf: 17)

Ibn Abbas menjelaskan ayat ini dengan mengatakan bahwa maksud setan mendatangi manusia dari berbagai arah adalah sebagai berikut

  1. Dari arah depan adalah setan mencoba membuat keraguan tentang akhirat.
  2. Dari arah belakang artinya setan menjadikan manusia teramat cinta pada dunia hingga mabuk terhadapnya.
  3. Dari arah kanan adalah setan membuat rancu perkara-perkara agamanya.
  4. Dari arah kiri adalah setan mendorong manusia untuk menyukai kemaksiatan sehingga setiap kemaksiatan seolah indah dan menyenangkan.

Dari pembahasan ini dapat diyakini bahwa setan selalu menggoda manusia siang dan malam baik sedang berada di keramaian atau sendirian.

 

2. Setan membujuk manusia untuk menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya.

Setan membisikan dan menuntun manusia untuk meyakini bahwa kesuksesan adalah kesuksesan dunia, dan kegagalan adalah kegagalan dunia. Hingga membimbing hati manusia bahwa orang rendah adalah ia yang rendah dunianya dan orang yang terhormat adalah ia yang terhormat dunianya.

Ini adalah tipuan setan, sebab Allah dan Rasulullah telah mengajarkan kepada kita bahwa akhirat lebih baik dari pada dunia. Ketika akhirat menjadi orientasi hidup maka kita akan sukses mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Adapun jika dunia dijadikan orientasi maka kita akan kehilangan akhirat dan dunia tidak akan diraih kecuali sebatas yang telah Allah tentukan. Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

Siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai oriantasi hidup, maka Allah akan menjadikan kecukupan di dalam hatinya dan Allah akan menghimpun kekuatannya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan lemah (artinya harta dunia datang kepadanya tanpa harus lelah mengejarnya), dan siapa saja yang menjadikan dunia sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kefakiran ada di depan matanya, dicerai beraikan kekuatannya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sebatas yang Allah takdirkan untuknya.

Ibn Qayyim menjelaskan bahwa orang yang mengejar dunia maka akan dijadikan sebagai orang yang sangat lelah dalam mengejar harta. Tidak ada orang yang lebih lelah selain dia yang mabuk dunia, sebab ia akan menggunakan seluruh kemampuan fisik dan fikirannya untuk menumpuk harta dunia.

 

3. Setan menjadikan manusia terlalu membenci dunia, sehingga manusia tidak memenuhi gizi tubuhnya, tidak menikah, tidak merehatkan fisiknya.

Dengan alasan zuhud dan demi mengejar akhirat, tak jarang setan menggelincirkan manusia dengan alasan ini. Sehingga ada orang yang sangat kurus bukan karena kekurangan makanan akan tetapi sengaja tidak makan, ada yang tidak menikah bukan karena khawatir melalaikan dari ibadah dan alasan lainnya. Hal ini jelas bertentangan dengan fitrah dan petunjuk Rasulullah.

Guluw atau sikap ekstrim dalam segala hal adalah buruk. Termasuk dalam membenci dunia. Sebab pada asalnya dunia ini halal untuk dinikmati selama kenikmatan dunia tidak melalaikan seseorang dari zikir kepada Allah. Allah berfirman:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad) siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hambaNya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah semua itu untuk orang beriman dalam kehidupan dunia dan khusus untuk mereka saja pada haki kiamat “demikian kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang yang mengetahui. (al-Araf: 32)

Dahulu salafussalih ketika menghadap Allah dalam beribadah mereka selalu menggunakan pakaian terindah, sebagaimana al-Hasan ibn Ali radiallahu’anhuma jika berdiri untuk solat menggunakan pakaian terindah yang dimilikinya. Dikatakan kepadanya “Wahai cucu Rasulullah mengapa engkau menggunakan pakaian terindah? Beliau menjawab “Karena Allah itu indah dan menyukai keindahan, sehingga aku berhias untuk Rabbku. Dan juga karena Dia berfirman:

خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Ambilah perhiasan kalian ketika manuk masjid (al-Araf: 31)

Al-Kalabi berkata “Dahulu Banu ‘Amir tidak di musim haji tidak makan kecuali makanan pokok saja. Mereka tidak makan daging karena mengagungkan haji mereka. Banyak kaum muslimin yang mengira bahwa hal itu harus diikuti lalu Allah menurunkan ayat di atas. Ayat yang mulia ini memberikan ajaran kepada manusia kebaikan dunia akhirat mereka. Karena ayat ini membolehkan kaum muslimin untuk bersenang-senang dengan hal baik yang dihalalkan oleh Allah, akan tetapi tanpa melampaui batas. Untuk itu datang bantahan untuk orang yang ekstrim yang menyempitkan diri mereka sendiri padahal Allah telah meluaskan untuk mereka. (lihat at-tafsir al-wasit lil quran al karim, Muhammad Sayyid Tantawi)

Rasulullah pun pernah menyalahkan beberapa sahabatnya yang keliru hendak guluw dalam ibadah. Perhatikan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim berikut:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ عَمَلِهِ فِى السِّرِّ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ آكُلُ اللَّحْمَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ. فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ. فَقَالَ « مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّى أُصَلِّى وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

Dari Anas radiallahu’anhu bahwa ada beberapa Sahabat Nabi sallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada Istri-istri nabi tentang amalan beliau di kesendiriannya (setelah dijelakan) maka ada di antara mereka yang mengatakan “aku tidak akan menikahi wanita”, sebagian dari mereka mengatakan “aku tidak akan makan daging”, sebagian yang lain mengatakan “aku tidak akan tidur di atas kasur”. (ketika kabar ini sampai pada Rasul) lantas beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda “kenapa ada satu kaum yang berkata begini dan begitu, akan tetapi aku tetap solat dan juga tidur, aku berpuasa dan juga berbuka, dan aku pun menikahi wanita, siapa saja yang membenci sunnahku maka ia bukan bagianku (H.R Muslim)

Setan berusaha menggelincirkan kaum muslimin di zaman nabi agar meninggalkan dunia dengan alasan agar fokus ibadah. Sehingga kaum muslimin tertekan karena keluar dari fitrahnya dengan tidak makan daging, tidak mendapatkan kenyamanan tidur dan tidak menikah. Ini semua adalah talbis. Sebab pada dasarnya hal dunia semacam itu boleh, yang haram itu ketika dunia melalaikan dari akhirat.

Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu, dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu bebuat kerusakan di bumi sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (al-Qasas: 77)

As-Sa’di rahimahullah mengatakan ayat ini adalah perintah berinfak dengan harta yang telah Allah berikan, akan tetapi Allah tidak memerintahkan menginfakan seluruh harta. Boleh bagi seseorang untuk menyimpannya dan menggunakannya untuk bersenang-senang dengan dunia dengan syarat tidak melupakan akhirat.

 

4. Setan meyibukan manusia dengan harta dan anak-anak

Harta dan anak adalah ujian dari Allah untuk manusia. Kecenderungan manusia untuk menyukai keduanya sangat besar, dan hal ini dijadikan oleh setan untuk menggelincirkan manusia sehingga sibuk mengejar harta dan tidak menginfakannya di jalan Allah. Allah berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian, dan di sisi Allah ada pahala yang besar (at-Taghabun: 15)

Seorang anak bisa menyebabkan ayah dan bundanya menjadi seorang yang bakhil dan pengecut. Hal ini karena keduanya sangat menyayangi anaknya dan khawatir anaknya menjadi kekurangan ketika mengeluarkan harta, atau seorang ayah menjadi takut keluar berperang di jalan Allah karena khawatir anaknya menjadi yatim. Hal ini pun bersumber dari kecintaan yang terlalu besar kepada anak. Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ

Sesungguhnya anak menjadi penyebab seseorang bakhil dan pengecut (H.R Ibn Majah disahihkan oleh Alalbani)

Di antara pengaruh setan juga, seseorang sibuk dengan berlomba-lomba mengumpulkan dunia dan saling memamerkan kekayaan dan kesuksesannya di hadapan orang lain, jika tidak mendapatkan hidayah maka hal ini pun bisa berlangsung hingga ia masuk ke dalam kubur. Allah berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ – حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Bermegah-megahan telah membuat kalian lalai, hingga kalian masuk ke dalam kubur (at-Takatsur: 1-2)

Arti “takasur” atau bermegah-megahan di sini mencakup segala sesuatu yang sering dijadikan manusia berlomba-lomba mencapainya, seperti banyaknya harta, banyaknya anak, keturunan, jabatan dll.

 

 

AGAR TERHINDAR DARI TALBIS IBLIS TERHADAP FITNAH DUNIA

Untuk menghindari talbis iblis terhadap fitnah dunia ini maka kita harus mengetahui dan meyakini beberapa hal berikut

  1. Pertama: Mengetahui bahwa kenikmatan dunia itu fana tidak abadi

Dunia ini fana, kenikmatannya tidak abadi, masa mudanya terbatas, kekayaannya pun bisa hancur. Dan ini sangat diyakini oleh semua manusia berdasarkan fakta di hadapan mata dan keterangan dari wahyu ilahi. Allah berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْها فانٍ وَيَبْقى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالْإِكْرامِ

Setiap yang ada di atas bumi fana, dan yang tetap kekal adalah Wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan (ar-Rahman: 26)

Semua akan fana, semua akan binasa, baik manusia, jin, malaikat, para pemikul Arsy atau siapapun dan apapun. Sedangkan Allah satu-satunya yang abadi. Dialah al-Awwal dan al-Akhir, yang ada sebelum sesuatu ada dan yang tidak akan pernah berakhir ketika yang lain berakhir. Jadi dunia ini terbatas, maka kita harus mencari surga yang kenikmatannya tanpa batas, dan abadi selama-lamanya.

 

2. Kedua: Allah akan meminta pertanggungjawaban atas nikmat yang Allah berikan

Kenikmatan dunia yang Allah anugerahkan kepada kita adalah kenikmatan yang tidak “gratis” dan begitu saja diberikan oleh Allah. Setiap kenikmatan harus dibayar dengan syukur kepadaNya. Jika kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmat itu dan jika kita kufur maka Allah telah menyiapkan azzab yang sangat pedih.

Bahkan kaki seorang hamba pada hari kiamat tidak akan bergeser kecuali setelah ditanya tentang semua nikmat yang Allah berikan. Rasulullah bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ ، عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat di hadapan Allah hingga ditanyakan kepadanya tentang lima hal, tentang umurnya di mana ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia rentakan, tentang hartanya dari maka ia dapatkan dan kemana ia belanjakan, dan apa yang telah ia amalkan dari ilmu yang diketahuinya (H.R Tirmizi).

 

3. Ketiga: Jika dibandingkan maka surga jauh lebih nikmat dari dunia

Bagi orang yang cerdas, maka ia akan memilih yang terbaik dari yang baik. Ketika dunia ini adalah kenimkatan dan akhirat pun kenikmatan maka ia pasti memilih memperjuangkan kenikmatan akhirat. Sebab dunia tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan akhirat.

Rasulullah bersabda:

لَرَوْحَةٌ فِي سَبِيلِ اللهِ أَوْ غَدْوَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ مَوْضِعُ قِيدٍ يَعْنِي سَوْطَهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Berjalan fi sabilillah baik pagi atau sore hari lebih baik dari dunia dan apa yang ada di dalamnya. Tempat pecut penghuni surga lebih baik dari dunia dan seisinya, seandainya ada seorang wanita ahlil jannah menoleh ke bumi, niscaya akan bersinar dari timur ke barat dan bumi akan dipenuhi aroma wangi, dan kerudung yang menutup kepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya (H.R Bukhari)

Ini satu kabar dari ribuan kabar yang menceritakan tentang nilai surga yang lebih berharga dari dunia seisinya. Semoga kita mendapatkan kenikmatan besar ini. Wallahualam.

 

oleh:
KH. Dr. Solahudin Ibrahim, Lc.,MA.Hum.
Mudir SMP Al Hidayah Islamic Boarding School.

Mewaspadai Talbis Iblis Dalam Perkara Dunia – SMP Al Hidayah Islamic Boarding School

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *