Bagikan ini :

 

A. Mengenal Beberapa Prinsip Untuk Mengimani Sifat Allah

Noer Iskandar al-Barsani mengutip perkataan Muḥammad Amīn al-Sinkitī dalam kitabnya Manhaj wa Dirāsah li Āyāt al-Asmā wa al-Ṣifāt menerangkan bahwa kandungan ayat-ayat Alquran yang mengurai sifat-sifat Allah mengandung tiga prinsip dasar;

  1. prinsip mensucikan zat Allah dari segala bentuk keserupaan dengan makhluk-Nya. Baik dari sisi zat, pekerjaan atau sifat-sifat-Nya. Hal ini dilandasi oleh surat al-Shūrā [42] ayat 11. Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar, Maha Melihat.”[1]

Juga dalam surat al-Naḥl [16]: 74, Allah berfirman:

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.[2]

  1. Kedua, prinsip percaya dan menerima sifat-sifat Allahdalam Alquran. Karena kelemahan dalam mengetahui zat Allah, sudah pasti akan menyebabkan kemustahilan mengetahui hakikat sifat-sifat-Nya. Dengan demikian menerima dan membenarkan berita yang berasal dari wahyu adalah sebuah keniscayaan, karena tidak ada yang dapat mengetahui zat Allah dengan benar kecuali diri-Nya sendiri.
  2. Ketiga, percaya dan menerima sifat-sifat Allahdari hadis nabi, karena perkataan nabi adalah perkataan yang dibimbing oleh Allah dan juga yang difahami dari ayat-ayat Allah. karena itu perkataan nabi tidak akan pernah bertentangan dengan wahyu dari Allah. Dia berfirman dalam surat al-Najm [53]: 3-4,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.[3]

Inilah ketiga prinsip untuk mengetahui sifat-sifat Allah dan mengetahui substansi ketuhanan dengan benar.[4]

 

B. Contoh Beberapa Sifat Allah

Siapapun di antara kaum mulimin yang merenungkan Alquran dan Sunnah, maka ia akan mendapatkan keduanya sangat baik dan tepat dalam menyucikan Allah dari segala keburukan, dan menetapkan untuk-Nya segala kesempurnaan.[5]

Inilah beberapa sifat Allah yang ada di dalam Alquran, selanjutnya Ibn Taimiyah juga metapkan beberapa sifat Allah yang sesuai dengan kelayakan Allah di dalam Hadis. Dalam kitabnya al-Wāsiṭiyah beliau mengutip delapan sifat sempurna Allah.

  1. Pertama, Allahturun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir. Hal ini sebagaimana sabda beliau ṣallāllah ‘alaihi wasallam:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Allah turun ke langit dunia setiap sepertiga malam terakhir, kemudian berfirman: Siapa saja yang berdoa, maka akan Aku kabulkan, siapa saja yang meminta maka akan Aku beri, dan siapa saja yang memohon Ampunanku, niscaya akan Aku ampuni (H.R Muslim)[6]

  1. Kedua, menetapkan bahwa Allah itu bahagia dan tertawa sesuai dengan sifat-Nya yang sempurna. Rasulullah ṣalāllahu’alaihi wasallam bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ أَحَدِكُمْ مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ إِذَا وَجَدَهَا

“Sunngung Allah lebih bahagia dengan taubat seseorang di antara kalian, dari pada seseorang yang menemukan kembali barang yang hilang (H.R Muslim)”[7]

Rasulullah ṣalāllahu’alaihi wasallam bersabda:

يَضْحَكُ اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الآخَرَ كِلاَهُمَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ. فَقَالُوا كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: يُقَاتِلُ هَذَا فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُسْتَشْهَدُ ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى الْقَاتِلِ فَيُسْلِمُ فَيُقَاتِلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُسْتَشْهَدُ

Allah tertawa kepada kedua orang lelaki yang saling membunuh, lalu keduanya masuk surga. mereka bertanya, bagaimana bisa seperti itu wahai Rasulullah?, beliau bersabda, “seseorang berperang di jalan Allah ‘Azza wa Jalla kemudian mendapat syahid, kemudian Allah memberi taubat kepada pembunuh hingga ia masuk Islam, lalu ia pun berperang di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, lalu ia pun mati syahid. (H.R Muslim)[8]

  1. Ketiga, metetapkan bahwa Allahitu takjub dan tertawa, sesuai dengan sifat-Nya yang mulia. Penetapan sifat ini berdasarkan sabda Rasulullah ṣalāllahu’alaihi wasallam berikut:

عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ رِجَالٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ

“Rabb kami kegum kepada para lelaki yang digiring masuk ke dalam surga dengan badan yang terbelenggu”.[9]

  1. Keempat, penetapan kaki untuk Allahsubḥānahū wata’ālā. hal ini sebagaimana sabda Rasulullah sallallāh ‘alaih wasallam:

لاَ تَزَالُ جَهَنَّمُ يُلْقَى فِيهَا وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيهَا قَدَمَهُ فَيَنْزَوِى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَتَقُولُ قَطْ قَطْ بِعِزَّتِكَ وَكَرَمِكَ

Penghuni neraka Jahannam terus dilemparkan ke dalamnya, dan neraka berkata masihkah ada tambahan?, sampai Rabb al-‘Izzah meletakan kakinya ke dalam neraka hingga ia neraka itu mengerucut dan barulah ia berkata, cukup wahai Robbku demi keagungan dan kemuliaanmu. (H.R Muslim)[10]

  1. Kelima penetapan bahwa Allahmenyeru, bersuara dan berbicara. Hal ini sebagaimana hadis berikut:

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا آدَمُ يَقُولُ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ فَيُنَادَى بِصَوْتٍ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُخْرِجَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ

Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman pada hari kiamat : “Wahai Adam”. Ia lalu menjawab : “Ya”, wahai Tuhan kami”, dan Adam dipanggil dengan suara : “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk mengeluarkan utusan dari keturunanmu ke neraka” (H.R Bukhāri)[11]

  1. Keenam penetapan bahwa AllahMaha Tinggi di atas makhluk dan Ia beristiwa di atas ‘Arsh. Hal ini berdsarkan hadis yang dijadikan sebagai rukyah untuk orang sakit berikut:

رَبُّنَا اللَّهُ الَّذِى فِى السَّمَاءِ تَقَدَّسَ اسْمُكَ أَمْرُكَ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ كَمَا رَحْمَتُكَ فِى السَّمَاءِ فَاجْعَلْ رَحْمَتَكَ فِى الأَرْضِ اغْفِرْ لَنَا حُوبَنَا وَخَطَايَانَا أَنْتَ رَبُّ الطَّيِّبِينَ أَنْزِلْ رَحْمَةً مِنْ رَحْمَتِكَ وَشِفَاءً مِنْ شِفَائِكَ عَلَى هَذَا الْوَجَعِ فَيَبْرَأُ

Allah adalah Rabb kami di langit. Ya Allah maha suci nama-Mu di langit dan di bumi. Sebagaimana rahmat-Mu di langit, maka berikanlah juga rahmat-Mu di bumi. Ampunilah dosa dan kesalahan-kesalahan kami, Engkau adalah pemilik dan pengatur orang-orang sehat, maka turunkanlah satu rahmat dari rahmat-rahmatmu, dan kesembuhan dari derita sakit ini, maka iapun sembuh. (H.R Abū Dāud)[12]

Hadis ini dihasankan oleh Ibnu Taimiyah dan diriwayatkan oleh Abū Dāud. Keberadaan Allah di atas langit di atas ‘Arsh pun sesuai dengan hadis jāriyah, ketika Rasulullah bertanya kepadanya, untuk memastikan keimanannya:

أَيْنَ اللَّهُ ؟ قَالَتْ فِى السَّمَاءِ. قَالَ : مَنْ أَنَا ؟ قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.

“Di mana Allah? wanita ibu berkata, Di langit. Siapa aku? Wanita itu kembali menjawab, “engkau adalah Rasulullah. Beliau lantas bersabda, “bebaskan ia karena dia seorang yang beriman” (H.R Muslim)[13]

  1. Ketujuh penetapan bahwa kebersamaan Allahdengan makhluk-Nya tidak bertentangan dengan ketinggian-Nya di atas ‘Arsh. Hal ini berdasarkan beberapa hadis berikut:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ وَرَبَّ الأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَىْءٍ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَىْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَىْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Ya Allah, pemilik langit dan bumi, pemilik ‘Arsh yang sangat besar, pemilik kami dan pemilik segala sesuatu. Ya Allah pembelah biji-bijian dan biji kurma, penurun Taurot, injil dan al-Furqan, aku berlindung kepadamu dari semua keburukan sesuatu, engkaulah pemegang ubun-ubunnya. Ya Allah engkaulah yang pertama tak ada sesuatupun sebelummu, dan engkaulah yang paling akhir tak ada seesuatupun setelahmu, engkaulah yang paling tinggi tak ada sesuatupun di atasmu dan engkaulah yang paling dekat tak ada sesuatupun yang lebih dekat selainmu, lunasilah hutangku dan cukupkanlah aku dari kefakiran (H.R Muslim)[14]

  1. Kedelapan adalah penetapan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Allahpada hari kiamat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ṣalāllahu’alaihi wasallam:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak akan berdesakan untuk melihat-Nya, jika kalian bisa hendaklah tidak melewatkan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari. (H.R Bukhārī)[15]

Kaum muslimin akan dapat melihat Allah pada hari Kiamat, hal ini menjadi akidah bagi Ahlusunnah wal Jamā`ah.

 

[1] Alquran dan Terjemahnya, (al-Madīnah: Mujamma’ al-Malik al-Fahd, 1418 H)  784.

[2] Alquran dan Terjemahnya, (al-Madīnah: Mujamma’ al-Malik al-Fahd, 1418 H)  413.

[3] Alquran dan Terjemahnya, (al-Madīnah: Mujamma’ al-Malik al-Fahd, 1418 H)  871.

[4] Noer Iskandar al-Barsani, Akidah Kaum Sarungan Refleksi Mengais Kabeningan Tauhid, (Kediri: MHM Lirboyo, 2010), 268.

[5] Khālid ibn ‘Abd Allāh al-Muṣliḥ, Sharḥ al-Aqīdah al-Wāsiṭiyah, (Dammām: Dār ibn al-Jauzī, 1421 H), 17-18.

[6] Abū al-Ḥusain Muslim ibn al-Hajjāj ibn Muslim al-Qushairī al-Naisabūrī, al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ- Ṣaḥīḥ al-Muslim, (Bairūt: Dār al-Jīl, tanpa tahun terbit), 175. (lihat al-Maktabah al-Shāmilah)

[7] Abū al-Ḥusain Muslim ibn al-Hajjāj ibn Muslim al-Qushairī al-Naisabūrī, al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ- Ṣaḥīḥ al-Muslim, (Bairūt: Dār al-Jīl, tanpa tahun terbit), 91. (lihat al-Maktabah al-Shāmilah)

[8] Abū al-Ḥusain Muslim ibn al-Hajjāj ibn Muslim al-Qushairī al-Naisabūrī, al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ- Ṣaḥīḥ al-Muslim, (Bairūt: Dār al-Jīl, tanpa tahun terbit), 40. (lihat al-Maktabah al-Shāmilah)

[9] Ibnu Ḥibbān berkata dalam kitab ṣaḥīḥnya jilid 1/343: bahwa sabda Rasulullah ṣalallāhu’alaihi wasallam “Rabb kami takjub” termasuk ke dalam lafaz yang difahami oleh orang yang diajak bicara, dan hanya ungkapan inilah yang siap untuk diketahui yang biasa digunakan oleh manusia di antara mereka. Maksud dari kabar ini adalah mereka yang menjadi tawanan kaum muslimin dari daerah syirik yang dibelenggu menuju daerah Islam, hingga mereka pada akhirnya masuk Islam dan masuk ke dalam surga. lihat: al-Maktabah shāmilah, Musnad Imām Aḥmad juz 11, hal. 156.

[10] Abū al-Ḥusain Muslim ibn al-Hajjāj ibn Muslim al-Qushairī al-Naisabūrī, al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ- Ṣaḥīḥ al-Muslim, (Bairūt: Dār al-Jīl, tanpa tahun terbit), 152. (lihat al-Maktabah al-Shāmilah)

[11] Muḥammad ibn Ismā’īl al-Bukhārī (w: 256 H), al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ, (al-Qāhirā: Dār al-Sha’b, 1407 H), juz 6, 122. (al-Maktabah shāmilah)

[12] Abū Dāud Sulaimān ibn al-‘Ash’ath al-Sijistānī, Sunan Abī Dāud, (Bairūt: Dār al-Kutub al-Arabī, Tanpa Tahun terbut), 17. Hadis ini dihasankan oleh Ibn Taimiyah dan didaifkan oleh al-Albānī dari sisi sanad. Akan tetapi jika pun sanad hadis ini ḍa’īf, maka dari sisi matan hadis ini ṣaḥīḥ maknanya karena banyak sekali dalil yang mendukungnya. Insya Allah dalil-dalil pendukung akan dituangkan oleh penulis pada penelitian ini. (Lihat al-Maktabah shāmilah)

[13] Abū al-Ḥusain Muslim ibn al-Hajjāj ibn Muslim al-Qushairī al-Naisabūrī, al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ- Ṣaḥīḥ al-Muslim, (Bairūt: Dār al-Jīl, tanpa tahun terbit),juz-2,  70. (lihat al-Maktabah al-Shāmilah)

[14] Abū al-Ḥusain Muslim ibn al-Hajjāj ibn Muslim al-Qushairī al-Naisabūrī, al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ- Ṣaḥīḥ al-Muslim, (Bairūt: Dār al-Jīl, tanpa tahun terbit), juz-8, 78. (lihat al-Maktabah al-Shāmilah)

[15] Muḥammad ibn Ismā’īl al-Bukhārī (w: 256 H), al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ, (al-Qāhirā: Dār al-Sha’b, 1407 H), juz 1, 565. (al-Maktabah al-Shāmila)

Mengimani Sifat Allah – SMP Al Hidayah Islamic Boarding School

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ada yang ingin ditanyakan? Hubungi kami..

Kami di sini untuk memberikan informasi yang anda butuhkan mengenai sekolah kami. Jangan ragu hubungi kami.

Customer Support

Call Center

Online

Call Center

Assalaamu'alaikum, informasi apa yang ingin anda ketahui dari sekolah kami? 00.00